Rumah Content Writer

banner image

Apakah Mengamen Profesi Negatif?



Apakah Mengamen Profesi Negatif - Akhir pekan, bagi sebagian kalangan ( masyarakat ) dimanfaatkan untuk bersantai sambil jalan-jalan keluar rumah untuk melepas penat, setelah satu minggu full time bekerja. Fenomena ini telah menjadi kultur bagi masyarakat perkotaan di Indonesia. Masyarakat kota Sumenep pun turut ambil bagian. Warga kota Sumenep banyak memanfaatkan momen akhir pekan yang dikenal dengan istilah malam mingguan tersebut, dengan melakukan Wolking Out to House.

Banyak sekali agenda kegiatan di luar rumah yang mereka lakukan di malam minggu. Ada yang sekedar berbelanja di mini market untuk kebutuhan satu minggu kedepan. Ada juga yang keluar rumah untuk cuci mata semata. Namun tidak menafikkan, kalau masih ada masyarakat kota Sumenep yang pada malam minggu justru memilih berdiam di rumah berkumpul bersama sanak keluarganya.

pengamen

Taman Bunga Tempat Wisata Kenamaan Sumenep

Biasanya setiap akhir pekan ( malam minggu ), masyarakat kota Sumenep tumpah ruah di area Taman Adipura yang akrab diistilahkan dengan TB ( Taman Bunga). Mereka sengaja melepas penat di kawasan yang cukup asri dan sejuk tersebut, setelah satu minggu bekerja mencari nafkah atau bersekolah bagi pelajar. Banyak aktifitas pengisi waktu yang mereka lakukan di TB.

Menurut mereka, Taman Bunga adalah tempat yang cocok untuk berkumpul bersama keluarga, makan-makan, bermain bersama anak, ngerumpi dan berolah raga. Bahkan kata mereka pula, TB juga cocok sebagai tempat muda mudi menjalin kasih alias pacaran. Intinya, semua kegiatan pelepas lelah telah terakomodasi di taman kebanggaan kabupaten paling timur pulau Madura tersebut.

Mengamen Dan Kultur Budaya Hingga Profesi Masyarakat
Di sisi lain, Kultur budaya malam mingguan ini merupakan lahan emas bagi masyarakat di sekitar Taman Bunga untuk meraih keuntungan ekonomi. Tidak sedikit dari mereka yang mengais rejeki halal di tempat tersebut. Mayoritas Mereka menjadi pedagang makanan dan minuman serta menjadi penyelia wahana permainan anak-anak seperti odong-odong, mandi bola, rental mobil mainan, rental roller coaster, tamiya dll. Selain itu, acara ramai-ramai tersebut juga dimanfaatkan sebagian orang untuk mencari rizki tidak halal, seperti mencuri serta praktek prostitusi.

Intinya, kalau malam minggu, semua ragam profesi menjamur di kawasan yang berada tepat di depan masjid Agung Jami’ tersebut. Baik dari profesi yang putih, hitam bahkan profesi yang abu-abu. 

Ada profesi unik yang sangat mencolok, lucu, walau kadang juga menjengkelkan. Profesi unik tersebut adalah mengamen. Di taman yang rimbun dengan bunga aneka warna ini, ditemukan banyak pengamen jalanan yang mencoba peruntungannya di malam minggu. Mereka berjuang mengharap kerelaan para pengunjung untuk sudi mendengar lagu-lagu yang berhamburan dari bibir mereka lalu memberi mereka uang sebagai imbalan. Mereka tidak pernah letih, sekalipun tidak sedikit orang yang mencemooh serta menolak untuk memberikan sedikit uang kepada mereka.

Sampai sejauh ini, pengamen yang sering mangkal di Taman Bunga berjumlah puluhan orang. Kinerja mereka berkelompok dengan membawa aneka alat musik seadanya. Ada yang membawa gitar, ketipung, tamborin dll. Bahkan ada yang  membawa satu alat musik saja sekalipun pengamen tersebut berjumlah 4 sampai 5 orang.


Uniknya, grop musik non formal tersebut mampu memanajemen dirinya dengan sistematis. Ada yang bertugas sebagai penyanyi, pemain alat musik, penerima uang dan ada juga yang sekedar berjoget. Intinya, tugas dan fungsi para pengamen tersebut sangat komplit. Maka tanpa terelakkan lagi, dengan adanya para pengamen tersebut, suasana Taman Bunga pada malam minggu semakin riuh dan meriah. 

Dengan adanya ilustrasi diatas, menarik untuk memperbincangkan kultur budaya baru ( mengamen ) yang telah menjadi realitas masyarakat. Utamanya masyarakat pemuda kota Sumenep, khususnya di area Taman Bunga pada malam minggu. 

Benarkah Mengamen Sudah Menjadi Kultur Pemuda TB

Di jaman teknologi yang katanya super canggih ini, ternyata profesi ngamen masih terdengar gaungnya. Dahsyatnya lagi, para aktornya kebanyakan dari kalangan pemuda penerus bangsa. Bahkan. budaya bermusik keroyokan ini merambah pemuda lintas strata sosial. Tak perduli dirinya orang miskin atau kaya, kalau pas malam minggu tinggal mengajak kolega ( kanca ) lalu bermusik ria alias bhutabbhuan berkeliling di tempat ramai sambil mengharap ada yang sudi memberikan uang receh kepada mereka.

Di satu sisi, mungkin kita cukup miris melihat potret pemuda yang seperti ini. Apa jadinya suatu bangsa kalau para kawula mudanya berprofesi sebagai pengamen yang identik dengan kemalasan, hura hura, kenakalan dsb. Namun, disisi lain, para pengamen belia ini juga harus diberikan apresiasi yang besar. Karena sehina apapun profesi mengamen, ternyata tidak semua orang mampu melakukannya. Tentunya mengamen adalah profesi yang membutuhkan keahlian tertentu, yang menurut hemat penulis, masih lebih baik daripada mengemis.

Baca Juga  : ABK Juga Manusia

Sisi Positif Seorang Pengamen


Ada banyak sisi positif dari profesi mengamen yang bisa kita kaji dengan gamblang, tentunya dengan membuang jauh prasangka-prasangka negatif, yang katanya identik dengan profesi ini. Sisi positif yang pertama adalah rasa percaya diri yang tinggi. Para pengamen biasanya memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Para pengamen tidak takut untuk bernyanyi, berjoget, berjingkrak jingkrak, dan melucu di depan orang banyak. Padahal mereka sadar, bahwa tidak semua orang menyukai profesi tersebut. Bahkan tidak sedikit orang yang mencapnya sebagai sampah masyarakat alias brandalan, bromocorah, pengangguran dsb. 

1. Memiliki Rasa Percaya Diri Tinggi


Sehina apapun profesi ngamen, rasa percaya diri yang ditimbulkannya merupakan sisi positif yang perlu dimaknai sebagai sifat penting pemuda, yang kelak sifat ini akan menjadi bekal dalam meraih kesuksesan hidupnya. Dengan sifat ini pula, mereka akan menjadi pribadi yang pemberani, kreatif, tangguh dan tidak mudah putus asa dalam melakukan sebuah pekerjaan.

Dari beberapa literatur dan biografi-biografi yang penulis baca, ternyata banyak enterpreneur muda yang pada masa mudanya pernah melakukan training kepercayaan diri dengan mengamen. Chairul Tanjung ( pemilik CT Corp ) juga mengaku pernah mengamen di sebuah taman di Yogyakarta bersama Komunitas Utan Kayu Yogya.

2. Kemampuan Memanajemen Diri. 

Harus saya akui, manajemen grup pengamen ini diatur dengan jeli dan kreatif. Mereka menempatkan para anggotanya sesuai dengan keahliannya masing-masing. Bagi angggota yang piawai memetik gitar, di dalam grup dia menjadi pemain gitar. Kalau suaranya bagus, dia memiliki tugas untuk menyanyi dan tidak berjoget. Dari kenyataan ini dapat disimpulkan, grup pengamen piawai melakukan identifikasi terhadap anggotanya. Kalau sifat ini diaplikasikan dalam kehidupan, maka kaum pemuda akan memiliki disiplin tinggi. Mereka juga pandai memilih serta memilah bentuk pekerjaan yang sesuai dengan potensi, bakat dan minatnya. Dampaknya, pekerjaan yang mereka lakukan akan menuai hasil optimal.

3. Aktualisasi Karya Menjadi Rupiah

Sisi positif yang ketiga, para pengamen memiliki potensi yang bisa diaktualisasikan menjadi lahan menjaring rupiah. Seorang pemain gitar yang handal belum tentu memiliki pemikiran untuk mengasah potensinya agar menjadi lebih baik dan berkembang. Potensi yang dimilikinya malah terkungkung dalam paradigma menghibur diri semata. Tak ada alternatif lain. Tak ada kreatifitas dan tak ada horison harapan yang seharusnya terinstal pada pola pikir pemuda sejak dini. Padahal, realitas mengabarkan banyak seniman gitar yang akhirnya sukses menjadi artis besar hanya dengan kemampuannya memetik gitar. Namun, bagi pengamen, kinerjanya bukan hanya sebatas piawai bermain alat musik, namun mereka juga berpikir bagaimana potensi dan keahlian tersebut bisa diaplikasikannya menjadi sebentuk kerja dan karya yang nantinya mereka bisa mendapatkan imbalan dari kerja dan karyanya tersebut. 

4. Pintar Membaca Peluang

Sisi positif yang ke empat adalah orang yg berprofesi mengamen pandai melihat peluang. Tempat-tempat ramai seperti taman bunga merupakan lahan strategis bagi para pengamen untuk menunjukkan kebolehan mereka bermusik, berjoget dan bernyanyi. Bahkan alat transortasi umum seperti bis kota dan kereta api pun tidak lepas menjadi lahan garapan bagi mereka. Mereka sadar kalau mengamen di tempat tempat keramaian hasilnya akan lebih efektif dan efisien dibandingkan mengamen dengan tekhnik house to house. Kalau di keramaian mereka tidak perlu bersusah payah melantunkan banyak nyanyian karena focus target mereka adalah khalayak ramai dan bukan orang per orang. Alhasil hanya dengan satu dua lagu saja mereka sudah bisa mendapatkan hasil yang lebih banyak.  

Itulah paradigma penulis tentang sisi positif dari profesi mengamen. Namun, tulisan ini tidak dimaksudkan untuk melegalkan semua pemuda utamanya pemuda sumenep agar menjadi pengamen. Karena kehidupan bukanlah perjudian. 

Untuk bisa meraih sukses di jaman ini tidak hanya dibutuhkan kematangan emosional tetapi juga dibutuhkan kematangan ekonomi. Tetapi kalau pun ada pemuda yang memilih profesi ini sebagai metode transisi dan training mental, maka tulisan ini merupakan sebentuk apresiasi yang pantas diberikan kepada mereka.    

Apakah Mengamen Profesi Negatif? Apakah Mengamen Profesi Negatif? Reviewed by Agus Heriyanto on November 26, 2016 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Facebook

Diberdayakan oleh Blogger.